Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Sunday, 13 December 2015

TREND DAN ISSUE KEPERAWATAN

Trend dan isue keperawatan
Definisi Trend & Issue
Trend adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak orang saat ini dan kejadiannya berdasarkan fakta.
Definisi issue
Issue adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak namun belum jelas faktannya atau buktinya.
Keperawatan Maternitas merupakan persiapan persalinan serta kwalitas pelayanan kesehatan yang dilakukan dan difokuskan kepada kebutuhan bio-fisik dan psikososial dari klien, keluarga , dan bayi baru lahir. (May & Mahlmeister, 1990)
Keperawatan Maternitas merupakan sub system dari pelayanan kesehatan dimana perawat berkolaborasi dengan keluarga dan lainnya untuk membantu beradaptasi pada masa prenatal, intranatal, postnatal, dan masa interpartal. (Auvenshine & Enriquez, 1990)
Keperawatan Maternitas merupakan pelayanan professional berkwalitas yang difokuskan pada kebutuhan adaptasi fisik dan psikososial ibu selama proses konsepsi / kehamilan, melahirkan, nifas, keluarga, dan bayi baru lahir dengan menekankan pada pendekatan keluarga sebagai sentra pelayanan. (Reede, 1997) Upaya menghadapi Trend Keperawatan Maternitas
Pada masyarakat yang menuju ke arah moderen, terjadi peningkatan kesempatan untuk meningkatkan pendidikan yang lebih tinggi, peningkatan pendapatan dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hukum dan menjadikan masyarakat lebih kritis. Kondisi itu berpengaruh kepada pelayanan kesehatan dimana masyarakat yang kritis menghendaki pelayanan yang bermutu dan diberikan oleh tenaga yang rofesional. Keadaan ini memberikan implikasi bahwa tenaga kesehatan khususnya keperawatan dapat memenuhi standart global internasional dalam memberikan pelayanan kesehatan/keperawatan, memiliki kemampuan professional, kemampuan intelektual dan teknik serta peka terhadap aspek social budaya, memiliki wawasan yang luas dan menguasi perkembangan Iptek. .
1. Trend dan Issue Keperawatan Maternitas
1. Masalah
a. Penyebab angka kematian bayi masih tinggi
kematian pada bayi disebabkan oleh penyakit menular seperti radang paru-paru, diare dan malaria, Penyakit yang merenggut paling banyak korban jiwa adalah radang paru-paru 18 persen, atau sebanyak 1,58 juta anak diare (15 persen, 1,34 juta) dan malaria 8 persen, 0.73 juta anak.
b. Penyebab angka kelahiran bayi masih tinggi
Penyebab angka kelahiran bayi masih tinggi adalah pelayanan kesehatan yang semakin meningkat, kurangnya pengetahuan masyarakat progam KB
c. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) tiap tahun atau dua ibu tiap jam meninggal oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas (Depkes RI,Dirjen Binkesmas, 2004)
Penyebab kematian ibu cukup kompleks, dapat digolongkan atas faktor- factor reproduksi, komplikasi obstetrik, pelayanan kesehatan dan sosio-ekonomi. Penyebab komplikasi obstetrik langsung telah banyak diketahui dan dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti sulit. Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya masih banyak dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya (Chalik TMA, 1997). Secara sempit, risiko obstetrik diartikan sebagai probabilitas kematian dari seorang perempuan atau ibu apabila ia hamil. Indikator yang lebih kompleks adalah adalah risiko seumur hidup (lifetime risk) yang mengukur probabilitas kematian perempuan atau ibu sebagai akibat kehamilan dan persalinan yang dialaminya selama hidup. Bila istilah pertama hanya mencantumkan kehamilan maka yang kedua mempunyai dimensi yang lebih lebar yaitu kemampuan dan jumlah fertilitas.
Tingginya kematian ibu sebagian besar disebabkan oleh timbulnya penyulit persalinan yang tidak dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih mampu. Keterlambatan merujuk disebabkan berbagai faktor seperti masalah keuangan, transportasi dsb. (Depkes RI, Dirjen Yanmedik, 2005)
d. Penyakit menular seksual
Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual.. Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari kelompok ini. Hampir seluruh PMS dapat diobati. Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, tidak dapat disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan. Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian. Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan. Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk dilakukan
2. Penemuan Teknologi Terbaru
a. alat Kontrasepsi Implan Terbaru
UGM berhasil menemukan alat kontrasepsi implant atau susuk KB generasi ke tiga yang dinamakan Gestplan. Kelebihan alat kontresepsi ini bias bertahan hingga 7 tahun di badingkan implant saat ini yang ber umur 5 tahun. Penemuan ini hasil dari penelitian dari jurusan Farmatologi dan Toksikologi UGM.
b. Water Birth
Proses persalinan atau proses melahirkan yang dilakukan di dalam air, manfaaatnya ibu akan merasakan lebih relaks karena semua otot yang berkaitan dengan proses persalinan menjadi lebih elastic. Metode ini juga akan mempermudah proses mengejar sehingga rasa nyeri selama persalinan tidak terlalu dirasakan, di dalam air proses proses pembukaan jalan lahir akan lebih cepat.
c. USG ( Ultrasonografi ) 3D dan 4D
Alat USG ( Ultrasonografi ) 3D dan 4D adalah alat USG yang berkemampuan menampilkan gambar 3 dan 4 dimensi di teknologi ini janin dapat terlihat utuh dan jelas seperti layaknya bayi yang sesungguhnya ( DrJudi Januadi Endjun S.pog
Alat USG ini bahkan dapat memperlihatkan seluruh tubuh bayi berikut gerak- geriknya teknologi 3 dan 4 dimensimenjadi pelengkap bila di duga janin dalam keadaan tidak normal dan perlu di cari kelainan bawaannya seperti bibir sumbing, kelaina pada jantung dan sebagainya. Secara lebih detail kelebihan USG ( Ultrasonografi ) 3D dan 4D ini pada janin dapat terbaca secara lebih akurat, karena teknologi ini dikembangkan untuk meningkatkan ketepatan diagnosa.
d. Pil KB Terbaru
Pil KB dengan dorspirenone merupakan pil KB terbaru yang memberikan perlindungan kontrasepsi yang dapat diandalkan, dengan berbagai manfaat tambahan dalam suatu kombinasi yang unik Pil Kb dengan dorspirenone adalah pil yang membuat seseorang merasa lebih nyaman. Mengandung progestin baru dorspirenone yaitu homon yang sangat menyerupai progesteron salah satu hormon dalam tubuh. Dorspirenone mempunyai profil farmakologis yang sangat mirip dengan progesteron alami dengan karateristik memiliki efek antimineralokortoid dan antiandrogenik tidak memiliki aktifitas ekstrogenik, androgenik, glukortikoid dengan sifat antineralokortikoid. Pil KB dengan dorspirenone dapat memberikan manfaat tambahan yaitu tidak menaikkan berat badan, mengurangi gejala kembung, Haid menjadi teratur, mengurangi nyeri haid, dan mengatur keluarnya darah haid, tidak menaikan tekanan darah dengan androgennya. Pil KB dengan dorspirenone dapat memberikan manfaat tambahan yaitu mengurangi jerawat, dan mempercantik rambut dan kulit.
e. Robot akan digunakan untuk mengobati orang sakit
Diagnostik ini robot akan menggunakan penelitian global untuk memberikan pendapat ahli, beberapa dokter yang akan berani untuk diabaikan. Pelatihan medis akan beralih dari apa yang orang tahu, untuk mendapatkan data yang akurat yang robot bisa membuat keputusan, dan menyediakan “high-touch” dukungan emosional. Ahli bedah akan selalu berada pada premium, bersama-sama dengan tangan-on wali yang akan semakin berbasis masyarakat, dengan kualifikasi yang sangat khusus. Operasi remote akan menjadi bagian rutin setiap pusat spesialis rutin. Batas antara dokter dan perawat akan terus kabur sebagai perawat berwenang untuk membuat lebih banyak keputusan. Akibatnya pelatihan perawat akan semakin panjang dan perawat kelas atas akan lebih mahal)
2. Trend dan issue dalam keperawatan anak (senam otak)
Beberapa riset menunjukkan bahwa keberuntungan dan peluang bermula dari cara berpikir seseorang yang menentukan pola tindakannya, Banyak orang sukses di Indonesia dan negara Timur lainnya, menggunakan intuisi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Di pihak lain, orang yang juga sukses di Barat justru lebih banyak menggunakan rasionya. Berarti kesuksesan akan lebih mudah diperoleh bila kita mampu menggunakan intuisi (otak kanan) dan rasio (otak kiri). Sayangnya, menurut riset yang pernah dilaporkan, hanya 3% penduduk dunia yang menggunakan otaknya secara seimbang (Olivia F, 2008)
Berikut adalah cara melatih agar otak kiri dan otak kanan anak berkembang sama baiknya dan menjadi seimbang. Seimbang antara kecerdasan emosional (EQ) dan Intelektual (IQ) sehingga munculah kecedasan spritual (SQ) yang baik juga. Latihan yang bisa dilakukan adalah :
1. Tangan kanan menepuk-nepuk kepala, tangan kiri melakukan gerakan memutar di atas perut. Lakukan dalam 8 hitungan, lalu lakukan yang sebaliknya.
2. Kepalkan tangan kanan dan lakukan gerakan seperti menumbuk pada paha kanan, sementara tangan kiri melakukan mengelus paha kiri. Lakukan dalam 8 hitungan, lalu lakukan yang sebaliknya.
3. Trend dan issue dalam keperawatan dewasa (palliative dan hospice care)
Hospice adalah suatu sistem asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien sakit kronis atau terminal bersama keluarganya. Sistem ini khusus didesign untuk memenuhi tujuan perawatan yang berpusat pada keluarga dan dapat melibatkan perawatan dirumah. Perawatan pada unit day care dan tempat hospice yang sebenarnya (unit perawatan terminal).
Hospice care telah mengembangkan filosofi yang menyatakan bahwakematian adalah sebuah proses alami yang tidak boleh dipercepat atau ditunda dan bahwa orang tersebut harus tetap dalam keadaan nyaman.
Hospice care adalah:
§ Perawatan yang diberikan pada orang-oranng penderita penyakit terminal yang harapan hidupnya enam bulan atau kurang.
§ Jika diperlukan,melibatkan perawatan fisik langsung. Bersifat mendukung keluerga pasien.
§ Diberikan difasilitasi khusus hospic, di fasilitasi peerawatan lain di rumah. Lebih banyak dilakukan oleh asisten perawatan rumah atau asisten keperawatan dibawah arahan pemberi asuhan kesehatan profesional.
§ Dilakukan konseling kehilangan untuk membantu orang-orang yang masih hidup agar menerima kematian orang yang dicintainya.
§ Sebuah program di mana sukarelawan memainkan peran penting, melakukan kunjungan pribadi yang teratur ke pasien dan keluarga.
Hospice care diberikan oleh tim yang bekerja sama dengan Penderit penyakit terminal dan keluarganya. Tim tersebut biasanya terdiri dari dokter, perawat profesional, asisten keperawatan, dan profesional lain seperti pekerja sosial dan pemuka agama jika dibutuhkan dan diinginkan.
Tujuan hospice care antara lain:
1. Pengendalian nyeri sehingga individudapat tetap berpartisipasi aktif dalam hidup sampai ia meninggal.
2. Mengkoordinasikan layanan dukungan psikologis, spiritual dan sosial untuk pasien dan keluarga.
3. Mengadakan konseling hukumdan finansial untuk pasien dan keluarga.
Karena hospice care bersifat filosofi, hal tersebut menjadi bagian dari panduan tindakan perawat ketika merawat orang yang berpenyakit terminal. Perawatan ini diberikan sebagai mana perawat memberikan perawatan yang biasa. Tetapi ada beberapa hal yang harus diingat:
o Melaporkan nyeri dengan segera dan memberi perhatian ketat untuk tindakan yang memberi rasa nyaman.
o Menganjurkan orang tersebut untuk melakukan sendiri perawatan diri sebanyak mungkin.
o Siap sedia untuk mendengarkan. Habiskan waktu bersama pasien sebanyak mungkin dan sebanyak yang di iginkannya.
o Mengenal keluarga dan mendukungnya.
o Memberi perawatan yang sama dengan yang akan diberikan jika diagnosa terminal belum di putuskan.
o Melakukan semua aktivitas dengan hormat dan menghargai.
perawatan paliatif adalah perawatan yang di lakukan secara aktif pada penderita yang sedang sekarat atau dalam fase terminalakibat penyakit yang di deritanya. Pasien sudah tidak memiliki respon terhadap terapi kuratif yang di sebabkan oleh keganasan ginekologis. Perawatan ini mencakup penderita serta melibatkan keluarganya.
Menurut WHO pada 2005 perawatan palliative adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup, dengancara merigankan rasa nyeri dan penderitaan lain, memberikan dukungan spiritual dan psikososial mulai saat diagnosa di tegakkan sampai akhir hayat dan dukungan terhadap keluarga yang kehilangan/ berduka.
Lebih lanjut, organisasi kesehatan dunia (WHO) menekankan lagi bahwa pelayanan palliative berpijak pada pola dasar berikut ini:
1. Meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses yang normal.
2. Tidak mempercepat atau menunda kematian
3. Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang mengganggu
4. Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual
5. Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya.
6. Berusaha membantu mengatasi suasana duka cita pad keluarga.
Tujuannya adalah meningkatkan kualitas hidup penderita kanker pada stadium terminal. Upayanya dengan pencegahan, deteksi dini, serta mengatasi gejala dan masalah psikososial
4. Trend dan issue dalam keperawatan jiwa (psikososial)
Ada beberapa trend penting yang menjadi perhatian dalam keperawatan jiwa diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi
Dahulu bila berbicara masalah kesehatan jiwa biasanya dimulai pada saat onsetterjadinya sampai klien mengalami gejala-gejala. Di Indonesia banyak gangguan jiwaterjadi mulai pada usia 19 tahun dan kita jarang sekali melihat fenomena masalahsebelum anak lahir. Perkembangan terkini menyimpulkan bahwa berbicara masalahkesehatan jiwa harus dimulai dari masa konsepsi atau bahkan harus dimulai dari masa pranikah. Banyak penelitian yang menunjukkan adanya keterkaitan masa dalamkandungan dengan kesehatan fisik dan mental seseorang di masa yang akan datang.Penelitian-penelitian berikut membuktikan bahwa kesehatan mental seseorang dimulai pada masa konsepsi
2) Trend peningkatan masalah kesehatan jiwa
Masalah jiwa akan meningkat di era globalisasi. Sebagai contoh jumlah penderitasakit jiwa di provinsi lain dan Daerah Istimewa Yogyakarta terus meningkat.Penderita tidak lagi didominasi masyarakat kelas bawah, kalangan pejabat danmasyarakat lapisan menengah ke atas juga tersentuh gangguan psikotik dan depresif.Kasus-kasus gangguan kejiwaan yang ditangani oleh para psikiater dan dokter di RSJmenunjukkan bahwa penyakit jiwa tidak mengenal baik strata sosial maupun usia.
3) Kecenderungan faktor penyebab gangguan jiwa
Terjadinya perang, konflik, lilitan krisis ekonomi berkepanjangan merupakan salah satu pemicu yang memunculkan stress, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan jiwa pada manusia. Menurut data World Health Organization (WHO), masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yangsangat serius. WHO (2001) menyataan, paling tidak ada satu dari empat orang didunia mengalami masalah mental.
4) Kecenderungan situasi di era globalisasi
Perkembangan IPTEK yang begitu cepat dan perdagangan bebas sebagai ciriglobalisasi, akan berdampak pada semua faktor termasuk kesehatan. Perawat dituntutmampu memberikan askep yang profesional dan dapat mempertanggung jawabkansecara ilmiah. Perawat dituntut senantiasa mengembangkan ilmu dan teknologi di bidang keperawatan khususnya keperawatan jiwa. Perawat jiwa dalam era globalharus membekali diri dengan bahasa internasional, kemampuan komunikasi dan pemanfaatan teknologi komunikasi, skill yang tinggi dan jiwa entrepreneurship.
5) Perubahan Orientasi Sehat
Pengaruh globalisasi terhadap perkembangan pelayanan kesehatan termasuk keperawatan adalah tersedianya alternatif pelayanan dan persaingan penyelenggaraan pelayanan.(persaingan kualitas).tenaga kesehatan(perawat “jiwa”) harusmempunyai standar global dalam memberikan pelayanan kesehatan, jika tidak ingin ketinggalan. Fenomena masalah kesehatan jiwa, indicator kesehatan jiwa di masa mendatang bukan lagi masalah klinis seperti prevalensi gangguan jiwa. melainkan berorientasi pada konteks kehidupan sosial. Fokus kesehatan jiwa bukan hanya menangani orang sakit, melainkan pada peningkatan kualitas hidup. Jadi konsepkesehatan jiwa buka lagi sehat atau sakit, tetapi kondisi optimal yang ideal dalam perilaku dan kemampuan fungsi social Paradigma sehat Depkes, lebih menekankanupaya proaktif untuk pencegahan daripada menunggu di RS, orientasi upayakesehatan jiwa lebih pada pencegahan (preventif) dan promotif. Penangan kesehatan jiwa bergeser dari hospital base menjad community base.Empat Ciri Pembentuk Struktur Masyarakat Yang Sehat :
a) Suatu masyarakat yang di dalamnya tak ada seorang manusia pun yg diperalatoleh orang lain. Oleh karena itu seharusnya tidak ada yang diperalat/ memperalatdiri sendiri, dimana manusia itu menjadi pusat dari semua aktivitas ekonomimaupun politik diturunkan pada tujuan perkembangan diri manusia.
b) Mendorong aktivitas produktif setiap warganya dalam pekerjaannya, merangsang perkembangan akal budi dan lebih jauh lagi, mampu membuat manusia untuk mengungkapkan kebutuhan batinnya berupa seni dan perilaku normatif kolektif.
c) Masyarakat terhindar dari sifat-sifat rakus, eksploitatif, pemilikan berlebihan,narsisme, tidak mendapatkan kesempatan meraup keuntungan material tanpa batas.
d) Kondisi masyarakat yang memungkinkan orang bertindak dalam dimensi-dimensiyang dapat dipimpin dan diobservasi. Partisipasi aktif dan bertanggung jawabdalam kehidupan masyarakat. Untuk mewujudkan struktur masyarakat sehat,kuncinya : Setiap orang harus meningkatkan kualitas hidup yang dapat menjaminterciptanya kondisi sehat yang sesungguhnya. Mandiri dan tidak bergantung padaorang lain merupakan orientasi paradigma kesehatan jiwa
6) Kecenderungan Penyakit
Masalah kesehatan jiwa akan menjadi “The global burdan of disease“ (Michard &Chaterina, 1999). Hal ini akan menjadi tantangan bagi ”Public Health Policy” yang secara tradisional memberi perhatian yang lebih pada penyakit infeksi. Standar pengukuran untuk kebutuhan kesehatan global secara tradisional adalah angka kematian akibat penyakit. Ini telah menyebabkan gangguan jiwa seolah-olah bukan masalah. Dengan adanya indikator baru, yaitu DALY (Disabilitty Adjusted Lfe Year)diketahuilah bahwa gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan utama secara internasional. Perubahan sosial ekonomi yang amat cepat dan situasi sosial politik yang tidak menentu menyebabkan semakin tigginya angka pengangguran, kemiskinan, dankejahatan, situasi ini dapat meningkatkan angka kejadian krisis dan gangguan jiwadalam kehidupan manusia ( Antai Otong, 1994).
7) Meningkatknya Post Traumatic Syndrome Disorder
Trauma yang katastropik, yaitu trauma di luar rentang pengalaman trauma yangumum di alami manusia dlm kejadian sehari-hari. Mengakibatkan keadaan stress berkepanjangan dan berusaha untuk tidak mengalami stress yang demikian. Merekamenjdi manusia yang invalid dlam kondisi kejiwaan dengan akibat akhir menjaditidak produktif. Trauma bukan semata2 gejala kejiwaan yang bersifat individual,trauma muncul sebagai akibat saling keterkaitan antara ingatan sosial dan ingatan pribadi tentang peristiwa yang mengguncang eksistensi kejiwaan.
8) Meningkatnya Masalah Psikososial
Lingkup masalah kesehatan jiwa, sangat luas dan kompeks juga saling berhubungandengan segala aspek kehidupan manusia. Mengacu pada undang-undang Nomor 23Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Ilmu Kedokteran Jiwa (psychitri), secara garis besar masalah kesehatan jiwa digolongkan menjadi :
i. Masalah perkembangan manusia yang harmonis dan peningkatan kualitas, hidupyaitu masalah kejiwaan yang berkait dengan makna dan nilai-nilai kehidupanmanusia, misalnya:
• Masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan lifecycle kehidupan manusia,mulai dari persiapan pranikah, anak dalam kandungan, balita, anak, remaja,dewasa, usia lanjut.
• Dampak dari menderita penyakit menahun yang menimbulkan disabilitas.
• Pemukiman yang sehat.
• Pemindahan tempat tinggal
Baca Selengkapnya ...
Thursday, 21 February 2013

Diagnosa keperawatan dalam bahasa Indonesia


Diagnosa keperawatan dalam bahasa Indonesia

By Intansari Nurjannah
ISDA di susun sebagai sarana untuk memudahkan perawat dalam menegakkan diagnosa keperawatan. Tetapi diagnosa keperawatan dalam ISDA masih dalam bahasa Inggris. Hal ini dikarenakan penulis bukanlah penterjemah NANDA 2012 sehingga apabila diagnosa keperawatan dalam ISDA ditulis dalam bahasa Indonesia oleh penulis mungkin berbeda dengan diagnosa keperawatan yang diterjemahkan oleh penerjemah NANDA 2012. Untuk itu perlu adanya ‘bridge’ atau jembatan yang menghubungkan ISDA dengan NANDA 2012 (dalam bahasa Indonesia). Berikut ini daftar diagnosa keperawatan dalam bahasa Inggris dan ‘link’ nya dengan NANDA 2012 terjemahan berikut kode dan halaman dimana dapat ditemukan di NANDA 2012 (terjemahan dalam bahsa Indonesia). Urutan dibuat menurut alphabet.

Diagnosa keperawatan dalam bahasa   InggrisDiagnosa keperawatan dalam bahasa   IndonesiaKodeHalaman
Activity intoleranceIntoleran aktivitas00092315
Acute confusionKonfusi akut00128351
Acute PainNyeri akut00132604
Adult failure to thriveGagal bertumbuh dewasa00101466
AnxietyAnsietas00146445
Autonomic dysreflexiaDisreflexia autonomik00009493
Bathing hygiene self-care deficitDefisit perawatan diri: mandi00108337
Bowel incontinenceInkontinensia Defekasi00014291
Caregiver role strainKetegangan peran pemberi asuhan00062391
Chronic confusionKonfusi kronik00129355
Chronic low self-esteemHarga diri rendah kronik00119377
Chronic painNyeri kronik00133605
Chronic sorrowKepedihan kronis00137488
Complicated grievingDukacita terganggu00135471
Compromised family copingPenurunan koping keluarga00074456
ConstipationKonstipasi00011281
ContaminationKontaminasi00181575
Death anxietyAnsietas kematian00147460
Decisional conflictKonflik pengambilan keputusan00083507
Decreased Cardiac outputPenurunan curah jantung00029320
Decreased intracranial adaptive   capacityPenurunan kapasitas adaptif   intrakranial00049500
Deficient community healthDefisiensi kesehatan komunitas00215229
Defensive copingKoping defensif00071448
Deficient diversional activityDefisiensi aktivitas pengalihan00097226
Deficient fluid volumeKekurangan volume cairan00027264
Deficient knowledgeDefisiensi pengetahuan00126362
Delayed growth and developmentKeterlambatan pertumbuhan dan   perkembangan00111611
Delayed surgical recoveryPelambatan pemulihan pasca bedah00100557
DiarrheaDiare00013284
Disabled family copingKetidakmampuan koping keluarga00073458
Disorganized infant behaviorDisintegrasi perilaku bayi00116496
Disturbed body imageGangguan citra tubuh00118385
Disturbed energy fieldGangguan medan energi00050311
Disturbed personal identityGangguan identitas pribadi00225375
Disturbed sleep patternGangguan pola tidur00198300
Dressing self-care deficitDefisit perawatan diri: berpakaian00109340
Dysfunctional family processDisfungsi proses keluarga00063403
Dysfunctional gastrointestinal   motilityDisfungsi motilitas   gastrointestinal00196287
Dysfunctional ventilator weaning   responseDisfungsi respons penyapihan   ventilator00034334
Excess fluid volumeKelebihan volume cairan00026265
Fatigue (00093)Keletihan00093312
Fear (00148)Ketakutan00148467
Feeding Self-Care Deficit Defisit perawatan diri: makan00102341
Functional Urinary IncontinenceInkontinensia urinarius   fungsional00020270
GrievingDukacita00136469
HopelessnessKeputusasaan00124370
HyperthermiaHipertermia00007593
Hypothermia Hipotermia00006594
Imbalanced nutrition: less than   body requirementsKetidakseimbangan nutrisi: kurang   dari kebutuhan tubuh00002251
Imbalanced nutrition: more than   body requirementsKetidakseimbangan nutrisi: lebih   dari kebutuhan tubuh00001251
Impaired Bed MobilityHambatan  mobilitas di tempat tidur00091302
Impaired ComfortGangguan rasa nyaman00214598
Impaired DentitionKerusakan gigi00048541
Impaired Environmental   Interpretation SyndromeSindrom gangguan interpretasi   lingkungan00127350
Impaired Gas Exchange Gangguan pertukaran gas00030292
Impaired Home MaintenanceHambatan pemeliharaan rumah00098336
Impaired Individual ResilienceGangguan penyesuaian individu00210481
Impaired MemoryKerusakan memori00131364
Impaired Oral Mucous MembraneKerusakan membran mukosa oral00045548
Impaired ParentingKetidakmampuan menjadi orang tua00164399
Impaired Physical Mobility Hambatan mobilitas fisik00085304
Impaired ReligiosityHambatan religiositas00169513
Impaired Skin IntegrityKerusakan integritas kulit00046553
Impaired Social InteractionHambatan interaksi sosial00052417
Impaired Spontaneous VentilationGangguan ventilasi spontan00033325
Impaired SwallowingGangguan menelan00103255
Impaired Tissue IntegrityKerusakan integritas jaringan00044561
Impaired Transfer AbilityHambatan kemampuan berpindah
Impaired Urinary EliminationGangguan eleminasi urin00016278
Impaired Verbal CommunicationHambatan komunikasi verbal00051366
Impaired WalkingHambatan berjalan00088310
Impaired Wheelchair MobilityHambatan mobilitas berkursi roda00089306
Ineffective Activity PlanningKetidakefektifan perencanaan   aktifitas00199441
Ineffective Airway ClearanceKetidakefektifan bersihan jalan   nafas00031537
Ineffective BreastfeedingKetidakefektifan pemberian ASI00104388
Ineffective Breathing PatternKetidakefektifan pola nafas00032317
Ineffective Childbearing processKetidakefektifan proses   kehamilan-melahirkan00221424
Ineffective Community CopingKetidakefektifan koping komunitas00077454
Ineffective CopingKetidakefektifan koping00069451
Ineffective DenialKetidakefektifan penyangkalan00072463
Ineffective Family Therapeutic   Regimen ManagementKetidakefektifan manajemen   regimen terapeutik keluarga00080246
Ineffective Health MaintenanceKetidakefektifan pemeliharaan   kesehatan00099233
Ineffective Impulse ControlKetidakefektifan kontrol impulse00222360
Ineffective Infant Feeding   PatternKetidakefektifan pola makan bayi00107250
Ineffective Peripheral Tissue   PerfusionKetidakefektifan perfusi jaringan   perifer00204326
Ineffective ProtectionKetidakefektifan perlindungan00043236
Ineffective relationshipKetidakefektifan hubungan00223408
Ineffective Role PerformanceKetidakefektifan performa peran00055415
Ineffective Sexuality PatternKetidakefektifan pola seksualitas00065422
Ineffective self-health   managementKetidakefektifan manajemen   kesehatan diri00078237
Ineffective ThermoregulationKetidakefektifan termoregulasi00008595
InsomniaInsomnia00095295
Insufficient breast milkKetidakcukupan air susu ibu00216248
Interrupted BreastfeedingDiskontinuitas pemberian ASI00105389
Interrupted Family ProcessesGangguan proses keluarga00060406
Latex Allergy ResponseRespons alergi lateks00041587
Moral DistressDistress moral00175509
NauseaMual00134602
Neonatal JaundiceIkterik neonatus00194258
NoncomplianceKetidakpatuhan00079511
Overflow Urinary IncontinenceInkontinensia urine aliran   berlebih00176271
Parental Role ConflictKonflik peran orang tua00064414
Perceived ConstipationPersepsi kontsipasi00012283
Post-Trauma SyndromeSindrom pascatrauma00141435
PowerlessnessKetidakberdayaan00125477
Rape-Trauma SyndromeSindrom trauma perkosaan00142438
Readiness for enhanced breast   feedingKesiapan meningkatkan pemberian   ASI00106390
Readiness for Enhanced   Childbearing ProcessKesiapan meningkatan proses kehamilan-melahirkan00208427
Readiness for Enhanced ComfortKesiapan meningkatkan rasa nyaman00183600
Readiness for Enhanced   CommunicationKesiapan meningkatkan komunikasi00157365
Readiness for Enhanced Community   CopingKesiapan meningkatkan koping   komunitas00076455
Readiness for Enhanced CopingKesiapan meningkatkan koping00158453
Readiness for Enhanced   Decision-MakingKesiapan meningkatkan pengambilan   keputusan00184505
Readiness for Enhanced Family   CopingKesiapan meningkatkan koping   keluarga00073458
Readiness for Enhanced Family   ProcessesKesiapan meningkatkan proses   keluarga00159407
Readiness for Enhanced Fluid   BalanceKesiapan meningkatkan   keseimbangan cairan00160263
Readiness for Enhanced HopeKesiapan meningkatkan harapan00185502
Readiness For Enhanced   Immunization StatusKesiapan meningkatkan status   imunisasi00186235
Readiness for Enhanced KnowledgeKesiapan meningkatkan pengetahuan00161363
Readiness for enhanced nutritionKesiapan meningkatkan nutrisi00163253
Readiness for Enhanced Organized   Infant BehaviorKesiapan meningkatkan integrasi   perilaku bayi00117498
Readiness for Enhanced ParentingKesiapan meningkatkan menjadi   orang tua00164399
Readiness for Enhanced PowerKesiapan meningkatkan kekuatan00187475
Readiness for Enhanced   RelationshipKesiapan meningkatkan hubungan00207410
Readiness for Enhanced   ReligiosityKesiapan meningkatkan   religiositas00171517
Readiness for Enhanced Resilience  Kesiapan meningkatkan penyesuaian00212483
Readiness for Enhanced Self   Health ManagementKesiapan meningkatkan manajemen   sehatan-diri00162242
Readiness for Enhanced Self-CareKesiapan meningkatkan perawatan   diri00182337
Readiness for Enhanced   Self-ConceptKesiapan meningkatkan konsep diri00167376
Readiness for Enhanced SleepKesiapan meningkatkan tidur00165299
Readiness for Enhanced Spiritual   Well-BeingKesiapan meningkatkan   kesejahteraan spiritual00068503
Readiness for Enhanced Urinary   EliminationKesiapan meningkatkan eliminasi   urin00166279
Reflex Urinary IncontinenceInkontinensia  urine refleks00018272
Relocation Stress SyndromeSindrom stress akibat perpindahan00114439
Risk for Activity IntoleranceRisiko intoleran aktifitas00094316
Risk for Acute ConfusionRisiko konfusi akut00173356
Risk for Adverse Reaction to   Iodinated Contrast MediaRisiko efek samping media kontras   beryodium00218584
Risk for Allergy ResponseRisiko respons alergi00217589
Risk for AspirationRisiko aspirasi00039538
Risk for Autonomic DysreflexiaRisiko Disreflexia autonomik00010494
Risk for BleedingRisiko perdarahan00206539
Risk for Caregiver Role StrainRisiko ketegangan perean pemberi   asuhan00062394
Risk for Chronic Low self esteemRisiko harga diri rendah kronik00224381
Risk for Complicated GrievingRisiko dukacita terganggu00172473
Risk for Compromised Human   DignityRisiko pelemahan martabat00174371
Risk for Compromised ResilienceRisiko gangguan penyesuaian00211486
Risk for ConstipationRisiko konstipasi00012283
Risk for ContaminationRisiko kontaminasi00180580
Risk for decreased cardiac tissue   perfusionRisiko penurunan perfusi jaringan   jantung00200328
Risk for Deficient Fluid VolumeRisiko kekurangan volume cairan00028266
Risk for Delayed DevelopmentRisiko keterlambatan perkembangan00112612
Risk for Disorganized Infant   BehaviorRisiko disintegrasi perilaku bayi00115499
Risk for Disproportionate GrowthRisiko pertumbungan tidak   proporsional00113610
Risk for Disturbed Maternal/Fetal   DyadRisiko gangguan hubungan ibu-janin00209431
Risk for disturbed personal   identityRisiko gangguan identitas pribadi00225375
Risk for Disuse SyndromeRisiko Sindrome disuse00040301
Risk for Dry EyeRisiko mata kering00219542
Risk for Dysfunctional   Gastrointestinal MotilityRisiko disfungsi motilitas   gastrointestinal00197289
Risk for Electrolyte ImbalanceRisiko keitdakseimbangan   elektrolit00195262
Risk for FallsRisiko jatuh00155545
Risk for Imbalanced Body   TemperatureRisiko ketidakseimbangan suhu   tubuh00005592
Risk for Imbalanced Fluid VolumeRisiko ketidaseimbangan volume   cairan00025267
Risk for imbalanced nutrition: more   than body requirementsResiko ketidaksemibangan nutrisi:   lebih dari kebutuhan tubuh00003254
Risk for Impaired AttachmentRisiko gangguan pelekatan00058402
Risk for Impaired Liver FunctionRisiko gangguan fungsi hati00178261
Risk for Impaired ParentingRisiko ketidakmampuan menjadi   orang tua00057400
Risk for Impaired ReligiosityRisiko hambatan religiositas00170520
Risk for Impaired Skin IntegrityRisiko kerusakan integritas kulit00047554
Risk for Ineffective Activity   PlanningRisiko ketidakefektifan   perencanaan aktifitas00226443
Risk for ineffective cerebral   tissue perfusionRisiko ketidakefektifan perfusi   jaringan otak00201330
Risk for Ineffective Childbearing   ProcessRisiko ketidakefektifan proses   kehamilan-melahirkan00227429
Risk for Ineffective   Gastrointestinal PerfusionRisiko ketidakefektifan perfusi   gastrointestinal00202322
Risk for Ineffective Peripheral   Tissue PerfusionRisiko ketidakefektifan perfusi   jaringan perifer00228332
Risk for Ineffective RelationshipRisiko ketidakefektifan hubungan00229412
Risk for Ineffective Renal   PerfusionRisiko ketidakefektifan perfusi   ginjal00203322
Risk for InfectionRisiko infeksi00004531
Risk for InjuryRisiko cedera00035547
Risk for Latex Allergy ResponseRisiko respons alergi lateks00042591
Risk for LonelinessRisiko kesepian00054372
Risk for neonatal jaundiceRisiko ikterik neonatus00230260
Risk for Other-Directed ViolenceRiswiko perilkau kekerasan   terhadap orang lain00138565
Risk for   Perioperative-Positioning InjuryRisiko cedera akibat posisi   perioperatif00087550
Risk for Peripheral Neurovascular   DysfunctionRisiko disfungsi neurovascular perifer0086551
Risk for PoisoningRisiko keracunan00037583
Risk for Post-Trauma SyndromeRisiko sindrom pascatrauma00145437
Risk for PowerlessnessRisiko ketidakberdayaan00152479
Risk for Relocation Stress   SyndromeRisiko sindrom stress akibat   perpindahan00149440
Risk for Self-Directed ViolenceRisiko Perilaku kekerasan   terhadap diri sendiri00140567
Risk for Self-MutilationRisiko mutilasi diri00139571
Risk for ShockRisiko syok00205552
Risk for Situational Low   Self-EsteemRisiko harga diri rendah   situasional00153384
Risk for Spiritual DistressRisiko distress spiritual00067525
Risk for Sudden Infant Death   SyndromeRisiko sindrom kematian bayi   mendadak00156555
Risk for SuffocationRisiko asfiksia00036556
Risk for SuicideRisiko bunuh diri00150573
Risk for Thermal InjuryRisiko cedera termal00220560
Risk for Trauma Risiko trauma00038562
Risk for Unstable Blood Glucose   LevelRisiko ketidakstabilan kadar   glukosa darah00179257
Risk for Urge Urinary   IncontinenceRisiko Inkontinensia urine   dorongan
Risk for Vascular TraumaRisiko trauma vaskular00213564
Risk-prone health behaviorPerilaku kesehatan cenderung   beresiko00188231
Sedentary LifestyleGaya hidup monoton00168227
Self-NeglectPengabaian diri001903343
Self-MutilationMutilasi diri00151569
Sexual DysfunctionDisfungsi seksual00059420
Situational Low Self-EsteemHarga diri rendah situasional00120380
Sleep DeprivationDeprivasi tidur00096297
Social IsolationIsolasi sosial00053600
Spiritual DistressDistress spiritual00066523
Stress OverloadStress berlebihan00177489
Stress Urinary IncontinenceInkontinensia urine stres00017273
Toileting Self-Care DeficitDefisit perawatan diri: eliminasi00110342
Unilateral NeglectKealpaan tubuh unilateral00123348
Urge Urinary IncontinenceInkontinensia urine dorongan00019275
Urinary RetentionRetensi urin00023280
WanderingKeluyuran00154314
sumber : http://intansarinurjannah.wordpress.com/2012/06/05/diagnosa-keperawatan-dalam-bahasa-indonesia/

Baca Selengkapnya ...